Penyebab Hasil Uji Kompetensi Guru (UKG) sangat Rendah

MTsN Bawu – Berikut akan kami informasikan untuk anda alasan Penyebab Hasil Uji Kompetensi Guru (UKG) sangat tidak memuaskan. Dari hasil Uji Kompetensi Guru (UKG) tahun 2015 yang di laksanakan di Kota Solo, Jawa Tengah, sebagai riset ternyata nilainya sangat dibawah harapan. Tercatat hampir 42 persen peserta UKG di bawah binaan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) nilainya di bawah standar yang telah ditetapkan.

Jadi, hasil UKG sebanyak 52 persen nilainya di bawah standar. ”Arti di bawah standar, adalah nilainya di bawah 55,” tutur Sulardi, Kepala Bidang (Kabid) Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) Dikpora Kota Solo.

Sebanyak 42 persen guru peserta UKG yang nilai di bawah standar tersebut, menurut Sulardi, akan diikutkan dalam Pendidikan dan Pelatihan (Diklat). Soal teknisnya, masih menunggu Juklak (Petunjuk Pelaksanaan) dan Juknis (Petunjuk Teknis) dari Pemerintah Pusat.

ukg (1)

Peserta UKG Kota Solo tercatat 9.661 orang. Jumlah tersebut berasal dari jenjang pengawas sekolah (PS), guru PAUD, Guru TK, Guru SD, Guru SMP, guru SMA, guru SMK dan guru PLB (Pendidikan Luar Biasa). Dari total peserta tersebut, tercatat ada 4.068 orang nilainya di bawah standard.

Bagi peserta UKG yang nilai memenuhi standar, yaitu lebih dari atau sama dengan 55 tercatat 58 persen atau sebanyak 5.593 orang. Namun, nilai UKG di Kota Solo 2015 ini sudah mengalami kenaikan dibanding tahun sebelumnya.

Pakar Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof Dr Harun Joko Prayitno, berpendapat, UKG pada satu sisi dinilai baik. Tetapi, pada sisi lain, menimbulkan ekses negatif. Terutama, menimbulkan stres bagi guru.

Ketika guru mendeklarasikan guru profesional, tetapi kenyataan masih di-tes lagi. ”Adanya tes seperti itu, menunjukkan guru belum profesional,” jelas Prof Harun.

Ihwal pemetaan hasil UKG yang cenderung kurang menggembirakan, bahkan yang lulus jauh dari harapan, menurut Harun, perlu ditinjau ”apakah memang UKG diperuntukkan pemetaan atau berfungsi sebagai kelulusan.”

Kalau berfungsi sebagai kelulusan, karena UKG base-nya adalah teori. Menurut, Prof Harun, hal demikian tidak relevan. Karena, untuk bisa menjadi sosok guru profesional, tidak hanya sebatas teori. Karena untuk menentukan lulus atau tidaknya UKG, tidak cukup hanya teori, tetapi perlu alat ukur instrumen lain.

Alat ukur instrumen lain, kata Prof Harun, ”alat ukur yang bisa menunjukkan kesejatian guru kalau mengajar. Saya kira kalau guru mengajar sudah bisa mencerahkan, menggembirakan, dan memajukan siswa dari tidak tahu menjadi tahu, berarti UKG-nya sudah bagus”.